KARAKTERISTIK WONG PONOROGO
Ponorogo terkenal dengan sebutan kota budaya, dengan branding yang disajikan Ponorogo Ethnic Art of Java. Pertunjukan seninya yang sudah mendunia yaitu Reog Ponorogo. Maka tidak heran, Ponorogo terkadang menjadi tempat jujugan para wisatawan lokal untuk menikmati keseruan yang ada di Kota Reog ini.
Berbicara mengenai kesenian kota Ponorogo, ada cerita menarik
yang patut kita bahas berkaitan dengan ciri-ciri karakter orang Ponorogo. Untuk
lebih lengkapnya, simak informasi berikut ini.
BERPERANGAI RAMAH
Pada dasarnya masyarakat Ponorogo memiliki sifat yang ramah, seperti
masyarakat Jawa pada umumnya. Jika kalian berkunjung ke saudara atau teman di
Ponorogo, maka mereka akan menyambut dengan senang hati. Kalian akan disuguhkan
(hidangkan) berbagai macam makanan. Selain itu, kalian akan diajak
berbincang-bincang dengan si tuan rumah.
BERSIKAP TEGAS
TANPA BASA-BASI
Walau pun masyarakat
Ponorogo ramah-ramah, ternyata mereka juga dikenal dengan sifat tegasnya.
Selain itu, masyarakat Ponorogo tidak mau berbicara manis tetapi berdusta di
belakang orang. Jadi orang Ponorogo sangat suka berbicara apa adanya.
MEMILIKI SUBDIALEK PONORAGAN
Pada hakikatnya masyarakat
Ponorogo bersosialisasi menggunakan bahasa Jawa, seperti daerah di sekitarnya anatara
lain Madiun, Magetan, Pacitan, dan sebagainya. Namun ada mereka memunyai ciri
khas tersendiri yaitu Subdialek Ponoragan yang bisa kita ketahui sebagai
berikut:
- “Wengke wis madhang po gung?", yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “Kamu sudah makan apa belum?”
- "Wis juk ngendi?", artinya dalam bahasa Indonesia adalah "Kamu sudah sampai mana?".
- "Diuntal mbaung", yang artinya dimakan anjing, siluman, dan kata kasar lainnya.
MEMILIKI LAKU PRIHATIN
Laku prihatin bisa
diartikan tindak tirakat atau menjaga perilaku dalam keseharian. Hal ini
terlihat dari beberapa even yang menjadi monumental kegiatan budaya di Kota
Reog, misalnya Grebeg Sura atau sering ditulis Grebeg Suro dan larung sesaji
atau risalah doa yang diselenggarakan di Telaga Ngebel.
Grebeg Sura ini
digunakan oleh masyarakat Ponorogo untuk merenung, karena sejak dulu pada
kesempatan itu masyarakat Ponorogo akan berkumpul di alun-alun kabupaten walau
pun dengan berjalan kaki. Pada perkembangannya kegiatan ini diisi dengan
pertunjukan seni Reog Ponorogo.
KESENIAN REOG YANG MENDUNIA
Reog Ponorogo sudah menjadi ikon daerah yang mendunia, jadi pantas saja orang Ponorogo sangat jago dalam melakukan seni pertunjukan ini. Kesenian Reog Ponorogo masuk nominasi tunggal Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritagen) yang akan diusulkan Indonesia ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Sebelumnya, Reog Ponorogo telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Mendikbud RI pada 2013. (*)

Post a Comment